Minggu, 31 Januari 2010

Asrama (2): Plafon Bocor!

0 comments

Ini termasuk artikel perkenalan asrama. Sebelumnya sudah ada tulisan tentang asrama bagian satu...

Ok. Langsung saja.
Yang saya tidak suka dari asrama (selain kamar saya yang terletak di puncak gedung, lantai 4) adalah asrama bisa bocor kalau lagi hujan angin.


Saya di lantai 4, lantai paling tinggi. Untuk mencapainya dibutuhkan tenaga ekstra. Tapi kalau lagi hujan deras plus angin, plafonnya bocor...


Air merembes melalui sela-sela langit-langit. Kasur yang ada di atas otomatis basah, segera kami angkat dan amankan. Barang-barang di meja (buku, kertas, buku lagi, baju) terancam jadi korban berikutnya, kami tutupi dengan kresek...


Lantai tak tertolong, basah bertumpah ruah dengan air yang mungkin terlihat jernih, tapi mengandung zat-zat comberan. Ember-ember yang kami punya terlalu sedikit untuk menampung titik-titik kebocoran.


Memang kalau hujan sudah sangat deras dan angin berhembus kejam, kami sudah bersiap-siap untuk mengutuki diri kami sendiri dan berbasah-basah dalam kamar...


Itulah tidak enaknya tinggal di asrama lantai 4...

Demikian perkenalan asrama yang kedua... Mungkin masih ada yang ketiga dan seterusnya...


ilustrasi: www.sulekha.com

Sabtu, 30 Januari 2010

About vikachew09

0 comments


vikachew09 adalah blog personal milik Vika F. Insanittaqwa atau Vika Fitratunnany I. atau Vikachew atau varian nama lainnya yang sedang berkuliah di Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Ingin tahu kenapa dinamai "vikachew09" dan sejarahnya? Silakan Baca postingan "sejarah vikachew09".

Jadi, vikachew09 adalah blog personal yang kebanyakan isinya adalah pengalaman berkuliah di Teknik Informatika ITS, misalnya:
  • share pengetahuan tentang mata kuliah (tugas, materi/artikel, dan tutorial) di kampus
  • acara-acara resmi dan tidak resmi di kampus
  • budaya dan lingkungan kampus
  • opini menyangkut kehidupan di kampus
  • dan lain-lain (yang masih ada hubungannya sama komputer/blog/informatika)
Kampus di sini yang saya maksud tidak lain dan tidak bukan adalah Teknik Informatika ITS Surabaya tercintaa..




Tidak ada niatan lain selain untuk mengabadikan kenangan yang unik dan berkesan, sebagai penyemangat untuk terus kuliah, dan berbagi ilmu pada semua yang penasaran tentang Teknik Informatika ITS dan kehidupan kampus.

Vika Fitratunnany Insanittaqwa bisa ditemukan di:

Vika Insanittaqwa | Create Your Badge

Atau hubungi di email vikachew@gmail.com

Emosional Nomor Satu, Intelektual Nomor Dua, Benarkah...?

0 comments
 
[lumayan panjang]

Mungkin sudah sering dengar kecerdasan intelektual dan emosional, bahwa kecerdasan intelektual itu lebih ke arah akademik, dan kecerdasan emosional lebih ke arah sosial.

Mungkin juga sudah bosan tentang hasil penelitian bahwa yang menentukan kesuksesan itu yang lebih memegang peran adalah kecerdasan emosional, bukan intelektual.

Saya juga sudah bosan, tapi kenyataan itu seolah tidak adil.

Kenapa yang pintar secara emosional saja yang "kemungkinan besar" sukses. Kenapa yang pintar intelektualnya, yang sudah susah-susah disekolahkan dari playgroup sampai sarjana, tapi emosionalnya kurang, seolah "divonis" untuk tidak bisa sukses...?

Daripada bingung menyesali bawaan genetik yang lebih berat ke kecerdasan intelektual, akhirnya saya mencoba untuk melihat dari sudut pandang begini...

Pertama kita lihat kecerdasan intelektual dan cara mengasahnya. Kita tahu ada banyak media untuk mengasah intelektual kita: SEKOLAH. Dan tentunya kita tahu ada jenjang-jenjang dalam sekolah itu.

Pertama SD, pelajarannya gampang-gampang. Lalu SMP, mulai susah. Lalu SMA, lumayang susah. Dan kuliah makin susah.

Kalau kita perhatikan, tingkat kesulitannya semakin bertambah. Demikian juga yang diharapkan dari kecerdasan intelektual kita, yaitu semakin terasah seiringbertambahnya jenjang pendidikan.

By default, dengan bertambanhnya usia maka semakin tajam pula intelektual kita...

Apa indikator kita berhasil mengasah kecerdasan intelektual kita? Gampang, ada nilai, atau ranking kelas, atau danem. Banyak. Semua orang ditargetkan mendapat nilai tinggi, yang menandakan kecerdasan intelektualnya tokcer...

Namun untuk sampai di sana, jerih payah orang berbeda-beda. Ada yang setengah mati belajar, tapi tetep ngga bisa mengerjakan ulangan/ ujian.

Tapi ada juga yang pada waktu akan ulangan bilang "Aduh, gimana nih kemarin ngga baca buku??" tapi ulangannya lebih mending daripada yang belajar...

Itulah yang disebut bawaan/ genitas/ bakat kecerdasan seseorang. Orang yang berbakat dalam kecerdasan intelektualnya akan lebih mudah mencapai target yang diinginkan secara akademik.

Kalau dia ditanya bagaimana cara agar mendapat nilai bagus, mungkin dia sendiri juga tidak tahu alasannya. "Aku otomatis ngerti, nggak tahu kenapa," mungkin itu jawabannya.

Itulah orang yang berbakat secara intelektual....

Sekarang kita lihat orang yang berbakat secara emosional dan cara ia mengasahnya. Analoginya mirip sama orang intelek tadi.

Sekolah, bagi orang-orang sosial, adalah lingkungan sekitar dan manusianya. Mereka belajar dari pengalaman mereka berhubungan dengan orang lain.

Semakin bertambah usia mereka, semakin terasah pula kecerdasan emosionalnya. Dapat dianalogikan dengan "naik kelas" ke jenjang yang lebih tinggi (tapi kita tidak tahu jenjangnya karena tidak ada tolak ukur pasti tentang kecerdasan emosional, jadi agak susah mengukurnya).

Yang jelas, orang yang berbakat di kecerdasan emosional akan semakin matang jiwa sosialnya seiring bertambahnya umur mereka. Sama seperti kecerdasan intelektual.

Kalau mereka ditanya kenapa bisa sangat peduli pada sesama, bisa diberi tanggung jawab, atau punya banyak teman, mungkin mereka dengan enteng menjawab "lho, ya nggak tahu. Beteman aja kok repot... Ngga usah dipikir lah, nggak ada rumusnya..."

Begitulah orang yang berbakat secara emosional.

Nah sekarang kembali ke permasalahan. Kenapa seolah-olah orang intelek tapi tidak berjiwa sosial "divonis" untuk susah jadi orang sukses? Kenapa takdir seolah tidak berpihak kepadanya?

Kenapa ia diberi kecerdasan intelektual, bukan emosional, kalau tahu bahwa kesuksesan hanya milik orang-orang yang dulunya ia sepelekan di sekolahan?

Jawabannya begini. Sebenarnya kita punya dua kecerdasan itu. Hanya, kita diberi bakat untuk lebih condong ke satu sisi.

Sisi yang kita condongi itu lebih banyak kita beri makan/ dilatih.

Orang intelek berlatihnya di sekolah. Bagaimana ia berlatih? Dengan baca buku, dengan latihan soal, dengan menghapal... Dia mempelajarinya secara tekun dan kontinu, dimana kalau ia berhenti maka berhenti pula perkembangan intelektualnya.

Sama seperti itu. Kita hanya perlu melatih kecerdasan sosial kita dengan lingkungan sekitar. Kalau tidak mau, berarti kecerdasannya mentok di kecerdasan sosialnya anak SD, yang maunya menang sendiri dan manja-manja.

Nggak akan berkembang ke taraf anak SMP, SMA atau perguruan tinggi yang mungkin sudah bisa menumbuhkan rasa empati pada sesama dan tahu seni lihai mencari teman atau mempengaruhi orang.

Begitu juga sama orang yang berjiwa sosial tapi ingin dapat juara kok nggak bisa-bisa. Sama saja. Latih saja kecerdasan intelektualnya, caranya kurang lebih sama seperti kita sekolah.

Ikuti saja alurnya. Pelajari yang lebih mudah baru mencoba yang susah. MULAI DARI LANGKAH KECIL. Setelah itu, langkahkan lagi dengan irama yang sama, sederhana, namun terus-menerus.

Syukuri tiap langkah yang berhasil diraih. Jangan berharap satu langkah kecil akan berhasil hebat. Langkah kecil yang terus-meneruslah yang akan berhasil hebat nantinya.

Yang pasti, jangan pernah berhenti belajar. InsyaAllah kita akan "naik kelas dan dapat ranking" dengan sendirinya, aamiin... :)

ilustrasi: divorcediscourse.com

PKM GT: Membuat Fiksi Menjadi Nyata Lewat Karya Tulis

0 comments
Di Its, mahasiswa (baru) diwajibkan untuk membuat karya tulis yang dinamai PKM. Karya tulisnya pun ada bermacam-macam. Ada penelitian, studi literatur, dlldll. Semua karya tulis yang berbeda itu ditampung di jenis PKM yang berbeda juga.

Di jurusan saya yang diwajibkan hanya PKM GT (gagasan tertulis). Maksudnya kita menyumbangkan ide/ gagasan dalam format karya tulis. Idenya adalah sesuatu yang belum pernah ada dan bermanfaat dan bisa direalisasikan...

Pertamanya sempat ribet juga untuk mencari kelompok, karena ketentuan kelompok PKM adalah 2-3 orang yang lintas angkatan. Alhamdulillah ada kakak (mbak tia) yang mau berbaik hati menjadi kelompok kami (saya dan Siska).

Lalu kami membuat tema, kira-kira apa yang akan ditulis. Akhirnya Siska dengan background dunia peternakan menyumbangkan idenya dan kami setuju. Akhirnya PKMnya jadi dalam waktu yang ditentukan. Thanks berat, Sis!

Karya itu lalu dikoreksi sama mas/ mbak asisten dari HMTC (himpunan) bidang Departemen ristek (riset dan teknologi) untuk dikoreksi dll. Kalau ada revisi kami akan diberitahu dan disuruh perbaiki. Begitu terus berulang-ulang.

Yang perlu diperhatikan dari PKM adalah harus mencari dosen pembimbing, karena tanpa dosen pembimbing, karya kita tidak bisa dikirim. Rencananya nanti setelah disetujui, akan ada presentasi tingkat jurusan, lalu fakultas, lalu institut, terus ke PIMNAS, yang tahun depan akan diadakan di Bali..

Nggak tahu juga kalau ada ralat nanti. Sekarang kami baru nyampe tahap pengumpulan.

ilustrasi: static.howstuffworks.com

Jumat, 29 Januari 2010

Rubah Mood Lewat Blog

0 comments


Kok bisa?

Gini, misalnya kita lagi kesel. Nah kita bisa mencurahkannya lewat blog. Kita ada dua pilihan:

1) Menumpahkan rasa kesel kita sejadi-jadinya lewat tulisan, atau
2) Tulis hal-hal yang positif tentang apa yang membuat kita kesel...

Kalau milih nomor 1, memang rasa kesel kita akan berkurang drastis (karena lega), tapi konsekuensi ke depannya bisa gaswat. Nanti, di saat kita sudah lupa sama rasa kesal kita, dan membaca tulisan itu, biasanya akan menyesal.

Kenapa dulu menuliskan hal-hal semacam itu? Rasanya bukan "aku" banget.. Kok bisa ya aku dulu nulis sesuatu kayak gini... Dsb

Biasanya tulisan yang dibuat dengan rasa emosi bukanlah sesuatu yang biasa kita tulis secara normal. Tanpa melalui pemikiran yang jernih, jadi kadang-kadang akan menyinggung orang yang membacanya. Pembaca juga akan melihat bedanya tulisan normal dan tulisan emosional...

Nah jika pilih nomor 2, maka...:
- Kita akan mempunyai sudut pandang baru mengenai hal yang membuat kita marah. Kita akan melihat sisi positifnya sehingga rasa marah kita berkurang
- Kita akan berubah sikap mengenai hal itu sehingga bisa melangkah maju ke depan, nggak kelamaan kesel, kan marah itu buang-buang waktu dan energi?
- Kalau kita ingat lagi tentang rasa keselnya, baca aja blog kita yang isinya hal-hal positif tadi, dijamin rasa keselnya ilang, hahahaha

Jadi blog bisa merubah mood jelek tadi jadi bagus lagi. Tapi kalau yang dilakukan kebalik, misalnya menuliskan hal-hal yang buruk tentang sesuatu, bisa-bisa mood jadi ngga bagus alias tambah jelek. Jangan sampe...

Begitulah, mari nulis hal-hal yang positif *mentang-mentang banyak masalah yang bikin stress... Hahaha... Salam semester 2!!*

ilustrasi: www.helloyou.be