Kamis, 25 Februari 2010

Yay, yay! Dapat 2 Gelar di PKM GT.competition

0 comments


PKM GT.competition atau PKM GT.com adalah kompetisi PKM GT tingkat jurusan Teknik Informatika yang pertama kali ada.
Pesertanya adalah yang membuat PKM GT tentunya. Kompetisi kemarin kalo nggak salah ada 50an kelompok yang dilombakan.

Pertama kali ada pengumpulan draft PKM GT dalam bentuk hardcopy. Draft ini akan dikembalikan pada peserta dengan daftar/catatan yang perlu diperbaiki.

Setelah direvisi blablabla, pengumpulan secara resmi harus menyertakan harcopy dan softcopy. "Tim keilmiahan" PKM GT.com akan menyeleksi 10 finalis yang berhak presentasi di depan juri pada Grand Finale.

Alhamdulillah kemarin lolos sampai final dan dapat juara II sama teman saya Siska and Mbak Tia. Trus dapat juga juara draft competition yang lalu, yang secara diam-diam dilombakan, hahaha.

Padahal finalis yang lain keren-keren lho. Berikut ini adalah beberapa judul/ topik yang sempat saya ingat:

1. Penggunaan RFID di KTP buat mengatasi masalah kependudukan Indonesia (Juara satu)

2. Konsep wadah pencerna tempat amoniasi kotoran ternak dengan limbah pekarangan (Juara dua dan juara draft competition, kelompok kami, hahaha)

3. Pemanfaatan GPS untuk mencegah anak hilang (Juara tiga dan presenter terbaik)

4. Pemanfaatan RFID dan deteksi iris mata buat memberantas budaya TA di kalangan mahasiswa (ide terbaik)

5. Pemancar sinyal hape pada jam tangan untuk mengatasi masalah "no signal"

6. Pemanfaatan "sesuatu" (lupa) buat menjernihkan sari apel

7. Pemanfaatan Asam Absisat dan etilen untuk mengawetkan buah-buahan

8, 9, 10nya saya lupa, hehehe...

Akhirnya, PKM GT.com selesai dan ajang kompetisi selanjutnya adalah PKM GT tingkat Institut yang akan dikumpulkan bulan Maret menadatang...



Asiik.. Dapat pin dari PKM GT.com...

Sabtu, 13 Februari 2010

List Blog yang Pernah Saya Buat (dan Buang)

0 comments
Sekedar mengingat-ingat....

Pertama kali lupa yang mana. Mungkin ahchew.wordpress.com dengan judul blog "Ah... Chew!" dan jargonnya "It's not to be sneezed at"...



Kedua vikachew.wordpress.com... (Akhirnya bisa juga mendapatkan username "vikachew", hehehe). Sayang blog ini tidak berumur panjang.



Ketiga vikachew.dagdigdug.com. Mulai menggunakan nama vikachew di semua tempat...



Keempat dan kelima adalah blog tugas SMA tapi sampai sekarang insyaAllah masih terpelihara, yaitu blog tentang TI di aerputeh.blogspot.com...



...dan blog tentang film-film, tapi namanya aneh: striptisdelapan.wordpress.com.



Keenam mungkin ini, vikachew09 hahaha... Moga-moga tidak ada yang ketujuh atau seterusnya. Kalaupun ada, saya inginnya yang domain sendiri, aamiin...

*Kemungkinan dulu pernah ada
vikachew.blogspot.com, tapi karena sebel (lupa karena apa) jadi di-delete.
blogvika.blogspot.com, karena "vikachew" sudah tidak bisa diambil lagi akhirnya pake "blogvika", tapi cuma ada 2 postingan, lalu saya delete karena bosan.
ihatebiologi.blogspot.com, berisi kumpulan ringkasan biologi, tapi cuma di angan-angan doang karena saya belum pernah posting sudah ke-delete duluan...

Begitulah pengalaman blogging saya, hahaha, yang semuanya baru pakai engine gratisan. Saya ingin make wordpress.com dan hostingan sendiri dan domain sendiri, kapan-kapan, kalau mau serius...

Minggu, 31 Januari 2010

Asrama (2): Plafon Bocor!

0 comments

Ini termasuk artikel perkenalan asrama. Sebelumnya sudah ada tulisan tentang asrama bagian satu...

Ok. Langsung saja.
Yang saya tidak suka dari asrama (selain kamar saya yang terletak di puncak gedung, lantai 4) adalah asrama bisa bocor kalau lagi hujan angin.


Saya di lantai 4, lantai paling tinggi. Untuk mencapainya dibutuhkan tenaga ekstra. Tapi kalau lagi hujan deras plus angin, plafonnya bocor...


Air merembes melalui sela-sela langit-langit. Kasur yang ada di atas otomatis basah, segera kami angkat dan amankan. Barang-barang di meja (buku, kertas, buku lagi, baju) terancam jadi korban berikutnya, kami tutupi dengan kresek...


Lantai tak tertolong, basah bertumpah ruah dengan air yang mungkin terlihat jernih, tapi mengandung zat-zat comberan. Ember-ember yang kami punya terlalu sedikit untuk menampung titik-titik kebocoran.


Memang kalau hujan sudah sangat deras dan angin berhembus kejam, kami sudah bersiap-siap untuk mengutuki diri kami sendiri dan berbasah-basah dalam kamar...


Itulah tidak enaknya tinggal di asrama lantai 4...

Demikian perkenalan asrama yang kedua... Mungkin masih ada yang ketiga dan seterusnya...


ilustrasi: www.sulekha.com

Sabtu, 30 Januari 2010

About vikachew09

0 comments


vikachew09 adalah blog personal milik Vika F. Insanittaqwa atau Vika Fitratunnany I. atau Vikachew atau varian nama lainnya yang sedang berkuliah di Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Ingin tahu kenapa dinamai "vikachew09" dan sejarahnya? Silakan Baca postingan "sejarah vikachew09".

Jadi, vikachew09 adalah blog personal yang kebanyakan isinya adalah pengalaman berkuliah di Teknik Informatika ITS, misalnya:
  • share pengetahuan tentang mata kuliah (tugas, materi/artikel, dan tutorial) di kampus
  • acara-acara resmi dan tidak resmi di kampus
  • budaya dan lingkungan kampus
  • opini menyangkut kehidupan di kampus
  • dan lain-lain (yang masih ada hubungannya sama komputer/blog/informatika)
Kampus di sini yang saya maksud tidak lain dan tidak bukan adalah Teknik Informatika ITS Surabaya tercintaa..




Tidak ada niatan lain selain untuk mengabadikan kenangan yang unik dan berkesan, sebagai penyemangat untuk terus kuliah, dan berbagi ilmu pada semua yang penasaran tentang Teknik Informatika ITS dan kehidupan kampus.

Vika Fitratunnany Insanittaqwa bisa ditemukan di:

Vika Insanittaqwa | Create Your Badge

Atau hubungi di email vikachew@gmail.com

Emosional Nomor Satu, Intelektual Nomor Dua, Benarkah...?

0 comments
 
[lumayan panjang]

Mungkin sudah sering dengar kecerdasan intelektual dan emosional, bahwa kecerdasan intelektual itu lebih ke arah akademik, dan kecerdasan emosional lebih ke arah sosial.

Mungkin juga sudah bosan tentang hasil penelitian bahwa yang menentukan kesuksesan itu yang lebih memegang peran adalah kecerdasan emosional, bukan intelektual.

Saya juga sudah bosan, tapi kenyataan itu seolah tidak adil.

Kenapa yang pintar secara emosional saja yang "kemungkinan besar" sukses. Kenapa yang pintar intelektualnya, yang sudah susah-susah disekolahkan dari playgroup sampai sarjana, tapi emosionalnya kurang, seolah "divonis" untuk tidak bisa sukses...?

Daripada bingung menyesali bawaan genetik yang lebih berat ke kecerdasan intelektual, akhirnya saya mencoba untuk melihat dari sudut pandang begini...

Pertama kita lihat kecerdasan intelektual dan cara mengasahnya. Kita tahu ada banyak media untuk mengasah intelektual kita: SEKOLAH. Dan tentunya kita tahu ada jenjang-jenjang dalam sekolah itu.

Pertama SD, pelajarannya gampang-gampang. Lalu SMP, mulai susah. Lalu SMA, lumayang susah. Dan kuliah makin susah.

Kalau kita perhatikan, tingkat kesulitannya semakin bertambah. Demikian juga yang diharapkan dari kecerdasan intelektual kita, yaitu semakin terasah seiringbertambahnya jenjang pendidikan.

By default, dengan bertambanhnya usia maka semakin tajam pula intelektual kita...

Apa indikator kita berhasil mengasah kecerdasan intelektual kita? Gampang, ada nilai, atau ranking kelas, atau danem. Banyak. Semua orang ditargetkan mendapat nilai tinggi, yang menandakan kecerdasan intelektualnya tokcer...

Namun untuk sampai di sana, jerih payah orang berbeda-beda. Ada yang setengah mati belajar, tapi tetep ngga bisa mengerjakan ulangan/ ujian.

Tapi ada juga yang pada waktu akan ulangan bilang "Aduh, gimana nih kemarin ngga baca buku??" tapi ulangannya lebih mending daripada yang belajar...

Itulah yang disebut bawaan/ genitas/ bakat kecerdasan seseorang. Orang yang berbakat dalam kecerdasan intelektualnya akan lebih mudah mencapai target yang diinginkan secara akademik.

Kalau dia ditanya bagaimana cara agar mendapat nilai bagus, mungkin dia sendiri juga tidak tahu alasannya. "Aku otomatis ngerti, nggak tahu kenapa," mungkin itu jawabannya.

Itulah orang yang berbakat secara intelektual....

Sekarang kita lihat orang yang berbakat secara emosional dan cara ia mengasahnya. Analoginya mirip sama orang intelek tadi.

Sekolah, bagi orang-orang sosial, adalah lingkungan sekitar dan manusianya. Mereka belajar dari pengalaman mereka berhubungan dengan orang lain.

Semakin bertambah usia mereka, semakin terasah pula kecerdasan emosionalnya. Dapat dianalogikan dengan "naik kelas" ke jenjang yang lebih tinggi (tapi kita tidak tahu jenjangnya karena tidak ada tolak ukur pasti tentang kecerdasan emosional, jadi agak susah mengukurnya).

Yang jelas, orang yang berbakat di kecerdasan emosional akan semakin matang jiwa sosialnya seiring bertambahnya umur mereka. Sama seperti kecerdasan intelektual.

Kalau mereka ditanya kenapa bisa sangat peduli pada sesama, bisa diberi tanggung jawab, atau punya banyak teman, mungkin mereka dengan enteng menjawab "lho, ya nggak tahu. Beteman aja kok repot... Ngga usah dipikir lah, nggak ada rumusnya..."

Begitulah orang yang berbakat secara emosional.

Nah sekarang kembali ke permasalahan. Kenapa seolah-olah orang intelek tapi tidak berjiwa sosial "divonis" untuk susah jadi orang sukses? Kenapa takdir seolah tidak berpihak kepadanya?

Kenapa ia diberi kecerdasan intelektual, bukan emosional, kalau tahu bahwa kesuksesan hanya milik orang-orang yang dulunya ia sepelekan di sekolahan?

Jawabannya begini. Sebenarnya kita punya dua kecerdasan itu. Hanya, kita diberi bakat untuk lebih condong ke satu sisi.

Sisi yang kita condongi itu lebih banyak kita beri makan/ dilatih.

Orang intelek berlatihnya di sekolah. Bagaimana ia berlatih? Dengan baca buku, dengan latihan soal, dengan menghapal... Dia mempelajarinya secara tekun dan kontinu, dimana kalau ia berhenti maka berhenti pula perkembangan intelektualnya.

Sama seperti itu. Kita hanya perlu melatih kecerdasan sosial kita dengan lingkungan sekitar. Kalau tidak mau, berarti kecerdasannya mentok di kecerdasan sosialnya anak SD, yang maunya menang sendiri dan manja-manja.

Nggak akan berkembang ke taraf anak SMP, SMA atau perguruan tinggi yang mungkin sudah bisa menumbuhkan rasa empati pada sesama dan tahu seni lihai mencari teman atau mempengaruhi orang.

Begitu juga sama orang yang berjiwa sosial tapi ingin dapat juara kok nggak bisa-bisa. Sama saja. Latih saja kecerdasan intelektualnya, caranya kurang lebih sama seperti kita sekolah.

Ikuti saja alurnya. Pelajari yang lebih mudah baru mencoba yang susah. MULAI DARI LANGKAH KECIL. Setelah itu, langkahkan lagi dengan irama yang sama, sederhana, namun terus-menerus.

Syukuri tiap langkah yang berhasil diraih. Jangan berharap satu langkah kecil akan berhasil hebat. Langkah kecil yang terus-meneruslah yang akan berhasil hebat nantinya.

Yang pasti, jangan pernah berhenti belajar. InsyaAllah kita akan "naik kelas dan dapat ranking" dengan sendirinya, aamiin... :)

ilustrasi: divorcediscourse.com